Jl KH Abdul Fattah ds Siman rt 04 rw 02 sekaran. KAB LAMONGAN
MADRASAH DINIYYAH PROGRAM KHUSUS, MDPK
PP AL FATTAH SIMAN (SALAF, FORMAL, TAHFIDZ AL QURAN)
MADRASAH DINIYYAH REGULER MDR FORMAL
MADRASATUL QURAN PUTRI, TAHFIDZ AL QURAN.

Friday, August 3, 2018

PROFIL Pondok Pesantren Al Fattah Siman




SEJARAH PONDOK PESANTREN AL-FATTAH
 SIMAN LAMONGAN JAWA TIMUR DI DIRIKAN



Pada tahun sebelum didirikannya pondok pesantren Al Fattah, telah nampak indikasi melalui intuisi- intuisi keilahian bahwa di Desa Siman terletak di belahan timur lautdesa akan berdiri dari sebuah bangunan yang nantinya mampu menyinari masyarakat dalam kebodohannya, baik kebodohan religi maupun kebodohan lainnya yang berstruktural.



Pada waktu itu tepatnya pada tahun 1942 melalui indikasi yang  bersifat transidental seorang penduduk desa siman yaitu istri H. Ismail dalam intuisi kesadarannya pernah melihat sinar terang di ujung sudut desa ( timur laut desa Siman) dan dia mengatakan bahwa nantinya di tempat itu akan menjadi sinar bagi masyarakat sekitar. Dalam keadaan yang sama banyak masyarakat siman yang  mendengar sayup- sayup di tempat itu pada tahun 1942 masih berupa pekarangan kosong yang di tumbuhi pohon bambu dengan lebat. Dan masih banyak tanda-tanda lainnya yang mengisyaratkan bahwa di desa Siman akan berdiri sebuah bangunan dan pada tempat itu akan dijadikan panutan bagi masyarakat sekitarnya.



Tapatlah kiranya, bahwa pada tahun 1942 yaitu tanggal 26 Agustus 1942 berdirilah sebuah langgar kecil yang merupakan cikal bakal pesantren Al Fattah, dari sini terus dikumandangkan pesan-pesan Ilahi kepada umat manusia melalui berbagai disiplin ilmu baik vital maupun penunjang. Dalam suasana Revolusi untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada awal berdirinya pesantren Al Fattah, maka para santri termasuk juga beliau K.H Abdul Fattah menggerakkan massa untuk memanggul senjata  melawan penjajah jepang.  Beliau juga pada masa perang mempertahankan kemerdekaan antara tahun 1945 sampai dengan tahun 1949 ikut bergerilya bersama-sama tentara republik indonesia sampai di daerah Bojonegoro ujung barat daya.

  • Masa-masa memperjuangkan kemerdekaan
Misi yang telah diemban oleh pesantren sejak didirikannya pada awal bulan Desember 1941, saat pesantren hanya berupa sebuah langgar kecil. Dari sini terus dikumandangkan pesan-pesan ilahi kepada umat manusia melalui berbagai disiplin ilmu baik fital maupun panjang. Dalam suasana revolusi untuk memperjangkan kemerdekaan Indonesai, Pesantren ini, yang masih dalam usia mudah telah menerjunkan diri dalam gelombang perjuangan mempertahankan kedaulan Republik Indonesia. Begitu juga saat terjadinya pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1965, KH. Abdul Fattah merupakan satu-satunya kiai dikabupaten lamongan yang dalam percobaan pnculikan PKI dapat lolos, dan berkali-kali usaha penculikan ini dilakukan tetapi alhamdulillah atas lindungan llah SWT. Dengan kegigihan beliau beserta kesigapan para santri, upaya PKI itu dapat digagalkan.





Lintasan peristiwa-peristiwa penting itu telah menunjukan keterlibatan Pesantren Al-Fattah dalam mengabdi kepada nusa dan bangsa serta agama. Hal ini terus dikumandangkan terutama pada masa orde baru, dengan sasaran memerangi kebodohan umat dan membina serta mencetak sumber daya manusia yang berwatak religi serta berwawasan luas dalam menghadapi kanca kehidupan dengan selalu mengambil inspirasi prilaku kehidupannya kepada ajaran AL-Qur’an dan AL-Hadits.


Atas dasar ini, Pesantren Ihyauddin selalu hendak mengembangkan sayapnya dengan berbagai unit pendidikan baik formal maupun informal selaras dengan tuntunan masyarakat. 


Upaya ini telah dirintis sejak awal berdirinya sampai saat ini, dan hasil yang dicapai adalah telah tersebarnya alumni pesantren diseluruh daerah dan diluar negri, yang mampu mendarmabaktikan ilmunya bagi kepentingan masyarakat, bangsa, negara dan agama.



Disamaping itu,  karena pada waktu itu dalam keadaan revolusi maka dikorbankan oleh beliau semangat juang kepada para santri dan masyarakatnya untuk membela sejengkal tanah airnya dari injakan penjajah jepang dan belanda dalam perang kemerdekaan. Untuk keperluan ini dilengkapilah oleh beliau ilmu bela diri dan kekebalan. Karena terbatasnya alat persenjataan yang kita miliki dan dapatlah dikatakan mereka berperang dengan senjata seadanya serta bentuknya tradisional.



Pada tahun-tahun  1947 sampai tahun 1949 sempat dipakai tempat konsentrasi kekuatan tentara pejuang kita,  bahkan di desa Siman sempat didirikan markas sementara bagi tentara-tentara pejuang.

No comments:

Post a Comment

Copyright©Santrisiman