Jl KH Abdul Fattah ds Siman rt 04 rw 02 sekaran. KAB LAMONGAN
MADRASAH DINIYYAH PROGRAM KHUSUS, MDPK
PP AL FATTAH SIMAN (SALAF, FORMAL, TAHFIDZ AL QURAN)
MADRASAH DINIYYAH REGULER MDR FORMAL
MADRASATUL QURAN PUTRI, TAHFIDZ AL QURAN.

Tuesday, October 29, 2019

Budaya Wali Songo Transformasi Menuju Peradaban Baru


BUDAYA WALI SONGO
Transformasi Menuju Peradaban Baru
Oleh, Gus Hamid

Disampaikan dalam Gelar Budaya Wali Songo, Jakarta 13-10-2019

Apa yang kita kenal dengan sebutan Wali Songo atau Sembilan Wali adalah serentetan tokoh pembaharu-pembaharu kebudayaan yang hidup sekitar abad ke 15 di Jawa. Mereka memang bukan tokoh-tokoh ulama pertama yang mendakwahkan Islam di tanah Jawa. Sebelumnya ada sejumlah tokoh ulama, yang disebut wali gelombang pertama, memasuki Jawa sekitar abad ke 14, di antaranya adalah Syeh Jumadil Kubro (wafat, 1376 M). Namun momentumnya berbeda; Wali Songo hadir dan berkiprah pada masa pancaroba, yaitu menjelang keruntuhan kerajaan Majapahit hingga berdirinya kerajaan Islam Demak. Kalahiran kerajaan Islam Demak itu sendiri merupakan hasil kepeloporan mereka, karena itu pengaruhnya memang sangat berbeda.

Peran spiritual dan politiknya dalam situasi historis di masa pancaroba itu, ketika Majapahit telah kehilangan wibawa dan kekeramatannya dan akhirnya runtuh, telah memungkinkan para Wali Songo menjadi tokoh-tokoh yang benar-benar hidup di alam fikiran masyarakat, terutama Jawa. Dengan kegigihan dalam peran politiknya yang sentral, dan dengan kecerdasan, kepiawaian, kedalaman, kesucian serta kekuatan batin yang mereka miliki dalam peran spiritualnya, para wali itu telah berhasil membawa masyarakat memasuki tahap eksistensi kerohaniaan yang baru, mentransformasikan secara damai dari Hindu-Budhisme Majapahit ke Islam, dengan coraknya yang khas; sehingga mereka dipadang sebagai satu simbol dan perwujudan ide yang menjadi jembatan dan rantai yang penuh arti dari dua peradaban yang tinggi tersebut.

Transformasi damai dilakukan dengan cara sangat canggih, mengisi sumber vitalitas setiap kepercayaan dan tradisi-tradisi dari masyarakat Jawa dengan gagasan-gagasan esensi dalam sistem kepercayaan Islam, meskipun kadang begitu implisit, dan tanpa mengubah struktur luarnya, atau sekedar perubahan sekenanya. Namun semua itu sesungguhnya, tanpa disadari, telah menimbulkan dampak perubahan yang mendasar, bahkan terhadap pandangan dunia Hindu yang sepintas tampaknya tidak bisa disesuaikan dengan Islam, misalnya mengenai arti kematian dan prosesi pemakaman, atau bahkan tentang Tuhan itu sendiri.

Sekedar contoh tentang prosesi pemakaman itu, teruatama paska-pemakaman, para wali justru  menampilkan dengan penuh upacara: ada upacara hari pertama, kedua, ketiga, hingga tujuh hari, seratus hari, bahkan seribu hari, yang dalam pandangan dan kepercayaan masyarakat Jawa, upacara adalah bagian dari agama itu sendiri; sehingga, yang demikian menimbulkan gairah keagamaan yang tulus. Hal demikian sejalan dengan pandangan dalam Serat Tiyang Pasek, yang memandang bahwa ruh dalam diri manusia itu dibungkus dalam tujuh lapis   ---mirip pandangan sebagian kaum sufi tentang tujuh tingkatan ruh: ruh madani, ruh nabati, ruh hayawani, ruh nafsani, ruh insani, sirrur-ruh, dan sirrul asrar---  yang terurai hari demi hari sejak hari kematian, baru kemudian ruh itu keluar menuju Pelangitan pertama; dan pada hari ke seratus bergerak ke Pelangitan kedua; hingga pada seribu harinya menuju Nirwana.  Upacara-upacara itu, dalam pandangan ini dimaksudkan untuk memudahkan pelepasan lapisan-lapisan tersebut. Hal demikian, memang kemudian muncul kritik dan kecaman dari kalangan ortodok. Namun bagi orang Jawa yang sangat menghormati dan terikat pada leluhur, upacara-upacara demikian secara sosialogis sangat berguna untuk tetap mempersambungkan secara batin antara yang hidup dengan yang mati.  Demikian pula dalam hal kehamilan, seluruh tahap perkembangannya disajikan dengan sejumlah upacara, yang semua itu bagi masyarakat Jawa mengandung makna rohaniah, dari upacara ruja’an hingga potong rambut paska-kelahiran; juga sejumlah upacara kenduri atau slametan.

Apa yang dikembangkan Wali Songo tersebut memang menimbulkan corak Islam sinkretik dan secara doktriner bersifat iluminasionis. Namun melalui metode itu dimana tradisi-tradisi kemudian berubah menjadi simbol-simbol keagamaan, hal demikian fungsinya untuk memperhubungkan, sedemikian rupa sehingga saling membenarkan antara tradisi dengan doktrin agama. Memang menjadi tidak tegas antara tradisi/Jawa yang diislamkan, atau Islam yang ditradisikan/Jawakan. Namun, hal demikian secara psikologis mengandung dampak besar terhadap perubahan Pandangan Dunia (Worldview) masyarakat, yang kini di dalamnya ada lapisan tebal dari Islam. Atas alasan ini para wali banyak menciptakan tembang dan dan pengembangan jenis-jenis kesenian yang tumbuh di tengah masyarakat. Ini penting, sebab datangnya iman tidak sepenuhnya secara murni berasal dari proses intelektual, apalagi dalam taraf perkembangan masyarakat Jawa saat itu, atau masyarakat modern di dunia hingga saat ini. Sebaliknya, banyak di kalangan masyarakat, iman itu lebih banyak timbul dari pengaruh sosial dan psikologis dari simbol-simbol religious pada kebudayaan yang tumbuh dan menjadi acuan dalam proses sosial di masyarakat. Sukses inilah, yang sungguh menakjubkan, dimana sebagian besar masyarakat Jawa, mungkin secara tidak sadar, kemudian tiba-tiba menjadi Islam, tanpa perlu dakwah yang massive, apalagi paksaan. Sementara hilangnya wibawa dan kekeramatan super power Majapahit, hingga akhirnya runtuh dan musnah, serta berdirinya kerajaan Islam Demak, melengkapi dan menyempurnakan semua ini. Sesungguhnya, ini sebuah revolusi.

Demikianlah, maka budaya Wali Songo yang bisa kita artikan di sini adalah seluruh khasanah yang terhampar dalam sejarah yang lahir dari kiprah wali songo tersebut, yang tercermin dan tumbuh dalam berbagai nilai dan prinsip keutamaan pribadi dan sosial, dalam tradisi maupun tingkah laku kolektif masyarakat, khususnya kalangan santri.

Mengapa kalangan santri? Terutama karena pelanjut tradisi dan budaya Wali Songo adalah kalangan santri, yang pusatnya adalah pesantren. Karena itu penyebutkan Budaya Wali Songo, untuk pengertian kekinian, dapat dipertukarkan dengan penyebutan Budaya Santri. Demikianlah, kemudian Gus Dur menyebut pesantren sebagai subkultur; tentu maksudnya adalah dalam konteks keseluruhan budaya yang berada dalam  wadah keluarga bangsa Indonesia; yang sejak awal abad ke 20 sempat mengkristal menjadi ideologi gerakan sosial-politik, yang dikenal dengan santrinisme, ketika masa perjuangan mengusir penjajah Belanda. Pesantren, dalam pengertian umum, adalah tempat dimana tradisi santri itu dirumuskan dan Kiyai adalah intinya, figur yang mengandung arti ulama dan simbol sikap bijaksana serta teladan; kemudian para santri pada lapis kedua, dan masyarakat menempati lapis ketiga. Santri, yang berada di lapis kedua, adalah agen langsung yang menyemai tradisi Wali Songo di tengah masyarakat.

Ketika mengkristal menjadi ideologi gerakan sosial-politik, sebagaimana disebutkan di atas, golongan santri memasuki fase baru, membelah diri dalam kelompok-kelompok gerakan. Mula-mula muncul Muhammadiyah (1912). Kemunculannya ini, karena gagasan pembaharuan yang digelorakan, menimbulkan kegusaran yang meluas di kalangan para Kiyai pesantren, yang hingga waktu tertentu tetap terus melanjutkan tradisi keagamaan yang tumbuh sejak zaman Wali, dan karena itu mereka ‘mengklaim’ sebagai pelanjut tradisi Wali Songo   ---‘klaim’ yang bisa dipahami---  sampai dibentuknya Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926 hingga sekarang. Pembelahan golongan santri itu terus berlangsung, dengan karakter-karakter barunya, hingga puncaknya menjelang kemerdekaan, mencapai tidak kurang dari sepuluh organisasi gerakan Islam.

Adanya klaim sebagai penerus tradisi Wali Songo, satu sisi itu mungkin ada baiknya, terutama untuk tujuan pemeliharaan. Namun yang demikian sekaligus membatasi gerak perluasan pengaruh pengembangannya.  Hingga akhir 1960-an ---setidaknya itu yang dapat saya amati--- cara mereka mempertahankan dan memperluas pengaruhnya di tingkat masyarakat bawah lebih mengandalkan pelibatan para santri dalam pemilihan-pemilihan Kepala Desa, yang dengan kepemimpinan santri budaya Wali Songo atau budaya santri otomatis dapat dikembang-biakkan lebih luas di tengah masyarakat, selain melalui lembaga pendidikan. Hasilnya memang efektif, mampu mengikis secara lebih mendalam pengaruh budaya lain. Namun hingga masa itu, atau paling akhir hingga dekade 1980-an, budaya santri terpenjara di pedesaan. Baru kemudian pada dekade 1990-an, seiring makin maraknya arus migrasi masyarakat desa ke kota, tradisi-tradisi santri mulai berkecambah di kalangan massa bawah perkotaan; dan hampir dalam waktu bersamaan, di kalangan menengah kota, juga tumbuh, seiring makin membanjirnya golongan terpelajar santri. Ketika memasuki kota itu, budaya santri atau Wali Songo memang segera tumbuh meluas, karena di sini --ini faktor utamanya-- sekat-sekat golongan menjadi kehilangan arti. Puncaknya pada dekade 2000-an ini, ditandai dengan bommingnya sholawat.

Transformasi Masa Kini

Sampai tahap masa kini, oleh para penerusnya budaya Wali baru dikembangkan ke tahap menghidupkan kembali yang sudah ada dengan ekspresi baru. Itulah yang kita lihat dari bomming sholawat dengan tokoh fenomenalnya Habib Syech; dan memang baru di sektor kesenian ini, dan itupun terhenti di sholawat; belum sampai pada pengembangan yang lebih dalam, apalagi mentransformasikan pada sektor-sektor yang lebih luas. Bangkitnya pun, awalnya, tidak lebih dari sekedar bentuk resistensi dari membanjirnya budaya pop hingga sudut-sudut desa. Itupun sebenarnya, jika boleh dikatakan demikian, fenemonanya merupakan bagian dari kebangkitan, atau tepatnya ‘perlawanan,’ kelompok-kelompok musik rakyat terhadap makin mendominasinya musik-musik pop, bahkan beserta para artisnya, yang menjangkau hingga di tingkat rakyat bawah. Perlawanan ini mula muncul akhir dekade 1990,   dan makin massive di awal dekade 2000-an. Itulah yang kita lihat dari maraknya group-group musik rakyat pada acara-acara kondangan pesta penikahan atau lainnya, dari group musik dangdut hingga campursari. Kehadirannya ini sekaligus menggantikan kekosongan panggung-panggung di desa yang sebelumnya banyak diisi kesenian-kesenian dari golongan abangan, yang hingga dekade 1970-an dalam pandangan golongan santri adalah haram. Dalam suasana itulah group-group sholawat yang dikemas baru ikut muncul dan dikombinasikan dengan musik tradisional Jidor sehingga mampu tampil atraktif. Sementara di sebagian kalangan habaib menampilkan Jalsa, sehingga suasana dunia santri betul-betul terasa mulai marak. Inilah awalnya; kemudian group sholawat Habib Syech hadir menggedor publik santri dengan sholawat massal yang dikelola secara professional. Sementara dalam kemasan musik pop, kita melihat hadirnya group musik Sabyan, yang mampu memasuki relung-relung kesadaran pecinta musik pop. Sampai di sini kita melihat terjadinya kebangkitan sholawat.

Apa pengaruh yang diharapkan dicapai dari kebangkitan ini? Pertanyaan demikian merupakan agenda penelitian penting, bukan sekedar untuk memperoleh jawabannya, tetapi dari hasil penilitan yang komprehensif akan diperoleh rumusan untuk pijakan transformasi lebih lanjut. Namun, sepanjang observasi sederhana yang bisa saya lakukan, sholawat kini menjadi klangenan alternatif mendampingi klangenan dengan lagu-lagu pop atau seni-seni modern dan musik klasik Barat bagi banyak anak muda dan keluarga modern di Indonesia, tidak terbatas pada golongan nahdliyin yang memang sebelumnya menjadi pemelihara tradisi sholawat. Tradisi tahlilan tampaknya juga mengikuti perkembangan yang sama, meskipun masih relatif terbatas. Kelihatannya sederhana, sekedar untuk klangenan, namun sesungguhnya dalam jangka tertentu dapat memberi pengaruh signifikan bagi pengembangan kesadaran rohani. Bagi mereka yang bukan berasal dari dunia santri, sholawat dapat menghubungkan dengan jiwa yang kering, atau bahkan jiwa sekuler melalui penetrasi lembut ke dalam rohani dan akhirnya mengubah kesadarannya menjadi “santri tanpa pernah ke pesantren.” Melalui mekanisme demikian, dengan sentuhan sisi seninya, sholawat mampu menembus dinding pembatas ideologis dan ‘mempersatukan’ kembali ummat yang terfragmentasi, meskipun tanpa harus menyebut diri santri. Ini yang kita lihat dari gejala yang tumbuh saat ini, dan jelas sebuah sebuah prestasi, yang dalam jangka panjang dapat menjadi landasan penyemaian peradaban baru dengan ruh santri, yakni nilai-nilai dari para Wali. 

Untuk konteks saat ini, perkembangan tersebut sangat penting di tengah ummat yang sedang terpolarisasi secara politik, yang sebagian dasar-dasarnya justru terkait dengan tumbuhnya karakter baru dalam ekspresi keIslaman, yang berkembang sejak, setidaknya, sepuluh tahun terakhir. Mereka ini memiliki sikap keIslaman yang lebih aktif dan sangat responsif terhadap berbagai persoalan di lingkungannya, baik lingkungan lokal-nasional maupun isu-isu internasional, terutama dari dunia Islam. Berbeda dengan kelompok Islam lainnya, yang cenderung menuju sikap konservatif. Kelompok ‘Islam Baru’ itu ---sebutan ini sekedar kebutuhan identifikasi--- sedang mencapai pertumbuhannya dan umumnya di kawasan-kawasan perkotaan.  Mereka berasal dari berbagai kalangan profesi, kelas sosial, buruh hingga kelasa menengah atas, dan latarbelakang aliran keormasan. Mereka ini, meskipun berbeda sikap politiknya dengan, terutama, pengusung tradisi santri, namun sholawat telah menyentuh mereka, meski dalam ekspresi yang berbeda, yang dengan itu tersatukan dalam wahana besar ummat. Kasus demikian memberi pelajaran bahwa seni (sholawat) menjadi aspek dapat menjadi instrument penting membangun silaturrahmi keummatan, sebagaimana para Wali menciptakan tembang-tembang untuk membangun kesatuan masyarakat saat itu, selain untuk menyentuh kesadaran rohaninya.

Kemudian, apakah transformasi itu nantinya mampu mengembangkan hingga terbentuknya satu peradaban baru? Alam demokrasi sesungguhnya memberi peluang besar untuk ambisi seperti itu.   Sesungguhnya landasan dan pilar-pilarnya telah cukup tersedia dan relatif kokoh untuk menuju pembentukan peradaban itu. Bukan saja karena kenyataannya mayoritas bangsa ini adalah muslim. Tetapi juga bahan bakunya telah cukup tersedia, yakni kearifan budaya lokal yang compatible untuk kepentingan pembudayaan tradisi-tradisi santri. Selain itu nilai-nilai kesantrian, seperti kejujuran, kesederhanaan, toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan serta sikap washatiyah dan a’dala, adalah hal-hal yang memang dibutuhkan dalam pengembangan peradaban masa depan. Sementara dengan makin meluasnya jumlah golongan terpelajar dan cendekiawan santri, budayawa dan lain sebagainya, mereka itu selain agn-agen peradana yang signifikan, adalah juru masak peradaban. Karena itu, sesungguhnya yang diperlukan adalah sebuah strategi peradaban.

Penutup 

Nilai-nilai yag diwariskan para Wali sesungguhnya menyimpan dinamisme yang hebat dari suatu kekuatan peradaban. Dengan demikian strategi peradaban menjadi penting agar gerak kebudayaan memiliki arah yang terbimbing dan mampu menggerakan manusia ke arah partisipasi yang lebih mendalam dalam tanggungjawab kehidupan dan religiousitas; jangan sebaliknya diselewengkan menjadi alat penista, atau seruan menjadi tirani kata-kata. Terimakasih, semoga bermanfaat.***



Support dakwah kami dengan mengikuti akun-akun resmi
pondok pesantren Al-Fattah Siman :

Instagram      : @alfattah_Siman
Facebook      : Ponpes Al Fattah Siman
Twitter            : @al_fath

Website          : www.ppalfattahsiman.net

No comments:

Post a Comment

Copyright©Santrisiman